Ayo Sugiryo

Guru di SMA Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Sedang belajar menulis dan Buku Perdana yang sudah diterbitkan: "From Home With Love" Tahun 2016, Buku ...

Selengkapnya

Karakter Tumbuh dari Rumah

Banyak orang tua yang berfikir untuk mencari tempat pendidikan yang tepat untuk putra putrinya. Teruntuk kalangan orang mampu pasti tidak akan mencari sekolah yang asal-asalan atau biasa-biasa saja. Harga tidaklah akan jadi masalah bagi mereka. Para pemburu tempat pendidikan ini akan mengorbankan apapun yang dipunyainya demi sekolah anaknya. Sekolah bagi mereka adalah tempat di mana masa depan anaknya ditentukan.

Orang tua tidak bisa begitu saja mempercayakan 100 persen pendidikan pada sekolah. Sekolah ibarat mesin pengolah perubahan karakter yang tentunya memiliki banyak keterbatasan. Kurikulum yang dibuat hanyalah sebagai alat bantu untuk mengarahkan sebuah proses pendidikan. Operatornya adalah para guru. Guru adalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan. Anak yang dididiknya merupakan produk keluaran dari berbagai mesin pencetak karakter yang banyak ragamnya.

Guru harus menjadi manusia super power di kelas. Katakanlah satu siswa yang duduk di pojok belakang dan satu lagi yang duduk di pojok depan merupakan dua bentuk anak manusia yang secara bawaan pasti sangatlah berbeda. Di pojok belakang, anak ini berasal dari orang tua yang pada saat hamil di perut ibunya dalam keadaan penuh gisi dan hidup dalam serba kecukupan. Hingga anak tersebut lahir, semua hal sudah disiapkan secara matang. Dari bayi hingga tumbuh menjadi seorang anak yang semua terpenuhi kebutuhannya. Si anak tidak mengalami apa itu penderitaan dan kekurangan. Semua kebutuhan selalu terpenuhi, dan tidak pernah mendapat kesulitan. Sedangkan satu anak lagi yang di duduk di pojok depan adalah sebaliknya. Dari sejak di kandungan hingga terlahir dan berkembang dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan. Sejak keci l sudah ikut terlibat dengan pekerjaan orang tua. Bangun lebih pagi untuk membantu membereskan rumah, membantu berjualan, dan makan seadanya. Itu baru dua anak di kelas. Kalau guru tersebut harus mengurus 36 anak dalam minimalnya satu kelas dengan beragam karakter bawaan orang tua yang cukup berbeda-beda maka akankah guru tersebut tetap masih dianggap super power?

Jika semua orang tua memiliki pemikiran bahwa guru merupakan mahluk super power dan sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk membentuk karakter anaknya, maka akan semakin banyak anak yang tidak memiliki karakter yang diharapkan orang tua. Bukan berarti sekolah gagal membentuk karakter anak menjadi lebih baik, tetapi lebih pada pola pikir orang tua yang terlalu pasrah dengan apa yang diberikan sebuah sekolah. Sedangkan pembentukan dan tumbuh kembangnya karakter seorang anak haruslah terbentuk dari rumah.

Pendidikan rumah adalah kuncinya. Semakin orang tua berperan lebih besar terhadap pendidikan anak di rumah akan semakin besar pengaruh yang diberikan pada perkembangan anak-anaknya. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah merupakan pengalaman belajar yang akan membentuk kepribadian anak menjadi mandiri dan peka terhadap lingkungan. Melibatkan anak dalam sebuah diskusi ringan di rumah di waktu senggang akan dapat membentuk anak untuk mampu berpendapat dan mengambil keputusan.

Apalagi di jaman yang serba milenial ini, hampir semua orang lebih memperhatikan gadgetnya ketimbang lawan bicaranya di dalam sebuah perkumpulan. Semua lebih disibukkan dengan aktifitas jemarinya ketimbang aktifitas berbicara dan kontak mata. Di sini, orang tua harus ambil sikap. Orang tua harus memberikan pengalaman belajar untuk membuat komitmen-komitmen tertentu agar komunikasi verbal tetap terjaga. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh sudah menjadi jargon dampak negatif yang sudah kita pahami.

Pemandangan serupa sering kita jumpai di tempat-tempat umum. Ketika sekelompok orang sedang mengadakan makan bersama di sebuah cafe misalnya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan memiliki aktifitas sendiri-sendiri daripada bercakap-cakap atau bercanda ria. Hal tersebut seakan menjadi sangat lumrah di jaman ini. Akan tetapi sebenarnya semua bisa dikembalikan ke jalan yang benar. Buatlah komitmen untuk tidak mengoperasikan gadget selama kumpul di ruang makan. Jadikan komitmen ini suatu pembiasaan di dalam rumah sehingga anak-anak kita terbiasa dengan pembentukan ini. Mungkin tidak mudah tapi perlu dimulai dari kita masing-masing.

Contoh kejadian di atas hanyalah merupakan hal kecil yang bisa dilakukan di rumah atau di luar rumah bagi anak-anak kita. Mereka ibarat anak panah yang siap melesat kemanapun jika tanpa ada pengendali dari pemegang busurnya. Tidak bosan untuk mengingatkan hal sekecil apapun pada anak-anak kita. Semakin bertambahnya usia, anak-anak akan banyak mendapatkan asupan pendidikan bentukan lingkungan di mana anak itu berada. Dan pendidikan lingkungan lebih cepat mempengaruhi pola dan kebiasaan anak kita. Tugas orang tua adalah selalu mengingatkan dan mengajak anak kita membuka pemikiran agar semakin dewasa dalam bersikap dan berfikir.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Siip, Bapak. Ini artikel yang menghidupi kehidupan. Keluarga adalah lembaga pendidikan yg pertama. Sekolah merupakan lembaga pendidikan resmi - lembaga pendidikan ke dua-. Jika keduanya saling bersinergi saling mengisi, wow luar biasa generasi yang kita cintai ini akan memajukan negeri tercinta ini. #Jadi ingat, senang rasanya kalau punya murid yg santun sudah dari rumahnya. Terima kasih, Pak Ayo

15 Sep
Balas

Sama-sama Pak. Mudah-mudahan bermanfaat.

15 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali