Ayo Sugiryo

Guru di SMA Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Sedang belajar menulis dan Buku Perdana yang sudah diterbitkan: "From Home With Love" Tahun 2016, Buku ...

Selengkapnya

Dan Pak Guru Itu Adalah Aku (#30_Perjuangan Ayah Masih Panjang, Nak)

“Bayi yang baru, seperti awal dari semua hal — keajaiban, harapan, impian dari berbagai kemungkinan.” Begitu menggugah kata-kata Eda J. Le Shan. Begitu pula kurasakan dengan kehadiran si kecil dalam keluarga baruku. Semua harapan, impian, dan kemungkinan terus tertanam di dadaku sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang tuhan berikan. Tuhan tahu bahwa keadaan negara ini sedang kalut. Awal tahun 98 adalalah puncak dari segala kebangkrutan. Reformasi digemborkan untuk menggapai seutas harapan. Maka tuhan mengirimkan seorang malaikat kecil agar keajaiban segera terjadi. Dan benar saja, semua berubah pada negara kecilku. Sang pangeran telah hadir untuk memberikan sebongkah semangat yang hampir pudar. Bayi laki-laki itupun kuberi nama Refo. Refo yang begitu lucu akan memprovokasi kebangkitan negara kecilku. Semua menyambut gembira dengan hadirnya Refoku. Dia begitu istimewa di mata keluargaku. Hampir semua perhatian mereka tercurah pada Refoku. Mereka sudah melupakan dolar yang sedang melambung. Mereka juga melupakan kerusuhan Mei 98 yang mampu menggulingkan singgasana sang Raja. Sampai-sampai lupa pula tentang statusku yang mengambang tanpa pegangan yang jelas. Aku menganggur saat si kecil terlahir.

Tak banyak yang tahu posisiku saat ini kecuali keluargaku di desa. Mereka seperti tertusuk duri hatinya mendengar anak kebanggaannya saat ini sedang menganggur di saat yang seharusnya sangat membahagiakan. Tapi mereka tetaplah orang tua yang luar biasa karena mereka selalu men-support dan mendoakan agar aku tetap bangkit dan mendapatkan yang aku cari.

Sungguh sangat sulit dalam kondisi ini untuk menawarkan ijazah yang aku miliki. Semua sedang menutup pintu untuk penambahan karyawan baru. Entah sampai kapan krisis negri ini akan pulih dan mampu memberikan lapangan kerja yang tersebar di mana-mana. Mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan.

Akan tetapi aku tak boleh lupa bahwa Tuhan memang Maha Melihat bagi umatnya yang sedang mengambang di atas daun kering. Hingga pada suatu titik yang entah di kordinat yang mana, Dia mengirimkan seseorang padaku. Dia adalah salah seorang alumni sales Top Photo yang dulu sama-sama berjuang dan sama-sama ter-PHK. Dialah seseorang yang dikirim tuhan untuk menolongku. Aku harus bangkit dan mandiri walaupun harus dimulai dari nol.

Saliman adalah seorang sales Top Photo yang luar biasa. Dia tidak mati di tempat setelah di PHK dari Top Photo. Pengalaman kerjanya sebagai sales rupanya bisa diterapkan di tempat kerjanya yang baru. Dia menjadi sales resmi Rajawalifood. Di sana dia menawarkan sesuatu yang tak terbayangkan olehku. Bukan jadi sales Rajawalifood, tapi dia memberikanku sebuah tantangan untuk berjualan produk dagangannya. Tanpa pikir panjang aku bilang ‘Yes!’ Tak ada yang lebih indah daripada menerima tantangan ini. Jiwa dagangku yang nol besar ini harus disemai di sini.

Tanpa pamrih, Mas Saliman meminjamkan sepeda motornya untuk sementara aku berkeliling menjajakan produk dagangan ke toko-toko kecil untuk sekedar menumpangi harga antara Rp. 1.000,- atau Rp. 1.500,- per pack. Kalau sehari aku mampu menjual 50-100 pack, keuntungan sudah terlihat di tangan. Anak dan istriku terselamatkan.

Sejak pertemuan dengan Mas Saliman, setiap pagi aku memulai hari-hariku dengan tumpukan kardus produk Rajawalifood di jok belakang sepeda motorku. Istri dan si kecil senantiasa mengantarku sampai ke depan pintu rumah dan mengucapkan ‘Sukses ya yah! Semoga laris hari ini! Semangaaat!’ Si kecil seolah-olah mengucap kata-kata doa itu. Aku hanya tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam sambil mengayunkan kick-starter sepeda motorku. ‘Maafkan ayah, Nak, walaupun pekerjaan ini bukan merupakan cita-citaku, tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untukmu. Mudah-mudahan ini akan menjadi awal yang baik. Karena memang seperti inilah yang bisa aku lakukan saat ini. Mungkin Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih baik dengan harus melalui cara ini.’ Tak sadar aku pun menitikan butiran bening dari kelopak mataku yang tiba-tiba mengalir. Aku menarik nafas lagi dan kuganti dengan senyuman.

Teriknya matahari tak menjadi halangan buatku. Warna kulit tubuhku yang kecoklatan sekarang semakin gelap karena sinar ultraviolet yang semakin akrab dengan tubuhku. Jalanan aspal yang memuai menjadi teman akrab sepanjang aku menjajakan produk itu. Saat ini aku lebih yakin karena barang yang aku jual sangatlah terjangkau dengan kocek masyarakat pada umumnnya. Produk snack yang memasyarakat dan semua orang tahu. Iklan TV pun membantu meningkatkan omset penjualan para sales. Tapi tentunya bukan sales omprengan sepertiku. Mungkin Mas Saliman iya karena dialah sales resmi perusahaan. Dengan pengalaman kerjaku dan ijazahku, untuk saat ini sangatlah sulit untuk bisa menjadi seperti Mas Saliman. Tak ada lowongan barang satu orang pun.

Ternyata kepulanganku sangat dinanti oleh istriku di rumah. Dia selalu tersenyum setiap menyambutku pulang. Sudah menjadi tradisi, bahwa aku langsung menghitung hasil jualan hari ini.

“Wah, lumayan, Mas jualan hari ini!” Dia memberiku semangat.

“Alhamdulillah, Hon. Hari ini dapat sisihan Rp. 55.000,-“ Jumlah yang sangat fantastic. Sudah dikurangi uang bensin. Segitulah penghasilan bersihku hari ini.

Hari-hari menelusuri jalan dan toko-toko seantero kota dan pinggir kota semakin membuatku mengerti arti perbisnisan di luar sana. Tapi bisnis skala kecil ini tak juga membuatku bekerja dengan sepenuh hati. Entah kenapa aku tetap saja tidak merasa begitu puas dengan yang sudah aku lakukan. Aku masih mengharap kerja kantoran dan lebih menggunakan kemampuanku dalam bidang yang lebih aku sukai. Aku suka pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa Inggris, atau hal-hal menantang yang lain yang menggunakan otakku, bukan berjualan seperti ini. Akan tetapi keadaan ini sudah memaksaku untuk bisa melewati apapun yang di depan mata. Aku tak mau berfikir terlalu jauh. Aku harus menikmati senikmat mungkin. Semua dukungan sudah diberikan sang istri dan si kecil bahwa pekerjaan apapun kalau dikerjakan dengan baik pasti akan barokah. Sudah, itu saja.

Hari ini cuaca tak begitu mendukung. Cahaya langit tiba-tiba meredup dan menimbulkan gumpalan awan hitam hingga dentuman petirpun menggelegar menakutkan. Aku tak bisa kemana-mana. Padahal masih banyak tumpukan di atas sepeda motorku.

“Hari ini mungkin Mas Suryo harus istirahat, Mas.” Begitu istriku menasihatiku.

“Mungkin begitu, Hon. Tapi aku baru dapat keuntungan sekitar Rp. 15.000,-. Tadi masih banyak toko yang belum sempat aku kunjungi. Sudah hampir seminggu tidak aku tengok. Tapi ya sudahlah. Gimana lagi daripada barang-barangnya basah.”.

“Jangan pernah mengeluh, Mas. Tak usah ngoyo. Kan masih ada hari esok.” Istriku begitu bijak. Aku menghela nafas panjang.

Hari berganti hari, hingga berganti minggu, dan bulan. Toko-toko mulai terisi sales resmi perusahaan. Mereka memberikan harga yang lebih murah. Sebagai sales tumpangan aku pun sadar diri dan mengalah. Jumlah toko yang biasa aku kunjungi mulai berkurang hingga toko-toko yang lebih kecil dengan jumlah pembelian party kecil. Ruang gerakku sebagai sales tidak resmi semakin terpepet. Omsetku menurun terus dari hari ke hari. Kadang hanya pas buat beli bensin. Aku semakin menggelepar.

Demikian pun, istriku tetap mensuportku untuk terus berjualan. Namun secara bisnis, kondisi ini sudah tidak menguntungkan, bahkan bisa dikatakan rugi. Aku rugi banyak waktu, tenaga dan tentu pikiran. Aku harus ambil sikap dengan pekerjaan ini. ‘Maafkan suamimu ini, Hon! Aku belum bisa jadi suami yang kamu banggakan. Maafkan ayah nak, ayah masih harus berjuang lagi demi masa depanmu. Maafkan anakmu ini ibu, aku belum bisa membanggakan ibu, mungkin masih ada waktu untuk bisa menunjukan sesuatu padamu di sisa-sisa hidupku nanti. Aku terus menggelepar, tapi aku tetap harus bersabar.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ternyata reformasi membuat seseorang begitu menderita. Tahun 98 saya baru lulus SMA reformasi membuat saya takut kuliah di luar kota. Kuliah saya tertunda satu tahun.

11 Oct
Balas

Ternyata ya Bu. Alhamdulillaah sekarang sudah sukses jadi guru dan penulis.

11 Oct

Betul, Suryo harus terus bersabar. Semua akan indah pada waktunya. Masih terus ditunggu, pak guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

11 Oct
Balas

Amiin. Mudah-mudahan tetap diberi kesabaran. Ditunggu kelanjutannya Ibu.

11 Oct

Perjuangan yg luar biasa, srmangat terus pak. Barakallah

11 Oct
Balas

Amin. Inshallah.

11 Oct

Seorang ayah yang sangat menyayangi keluarganya....Semoga krisis segera berlalu....

11 Oct
Balas

Amin. Tunggu kisah selanjutnya ya Bu.

11 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali