Ayo Sugiryo

Guru di SMA Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Sedang belajar menulis dan Buku Perdana yang sudah diterbitkan: "From Home With Love" Tahun 2016, Buku ...

Selengkapnya

Dan Pak Guru Itu Adalah Aku (#10 Surat Sakti)

Kuhirup kembali hembusan angin yang masih menerbangkan debu dan daun kering di akhir musim kemarau di desa. Tak ada yang berubah. Kegersangan dan bau panas bumi masih terasa menusuk. Ibuku begitu mengerti kalau kegersangan juga tampak di raut mukaku. Dia melihatku seperti anak gembala yang kehilangan hewan ternaknya. Rapuh dan tak tahu harus berbuat apa. Tak banyak yang bisa dilakukan di desa selain membantu orang tua mengurus kebun dan kambing.

“Sudahlah Suryo, kamu harus sabar. Kamu memang masih terlalu kecil dan belum saatnya merantau,” ujar ibuku menghibur. “Katanya kamu pengin sekolah?” Lanjutnya.

“Aku gak tahu Ma, apakah aku masih ingin sekolah atau tidak,” jawabku masih menyembunyikan keinginanku. Sejujurnya hati kecilku terus meneriakkan bahwa aku tidak pernah berhenti bermimpi untuk sekolah. Sekolah setinggi-tingginya memang sudah menjadi impianku yang tak pernah padam. Aku tidak mau seperti kakak-kakakku. Aku ingin lebih baik dari mereka. Aku ingin merubah image orang kalau di desaku juga ada yang sekolah lebih dari sekedar lulus SD. Aku ingin berbeda dengan anak-anak lain di desa.

“Lho kok nyerah. Kamu ini bagaimana? Kan masih ada kesempatan tahun depan,” desak ibuku tetap menyemangatiku walaupun aku yakin kalau dia sendiri tak begitu yakin.

Di tengah ketidakpastianku, seorang family datang menawarkanku untuk bekerja di Jakarta kembali. Kali ini aku sudah semakin dewasa. Keinginan sekolah saat itu sudah tidak aku pikirkan terlalu serius. Aku hanya punya keyakinan di hatiku yang paling dalam bahwa di mana pun dan kapan pun kalau sudah saatnya, kesempatan itu pasti akan datang. Entah kapan. Aku tak tahu. Akhirnya aku putuskan kembali untuk ikut saudaraku bekerja di Jakarta.

Kali ini aku benar-benar bekerja di Jakarta. Tanpa harus repot membuat surat lamaran maupun wawancara, aku pun langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan tepatnya pabrik yang memproduksi sabun, shampoo, dan sejenisnya. Yang aku tahu produknya sampai diekspor ke luar negeri.

Aku bekerja dan tinggal di gedung berlantai empat. Ada sekitar kurang lebih dua puluh pekerja baik laki-laki maupun perempuan. Diantara mereka rata-rata berijazah SD bahkan ada yang tidak lulus SD. Dan aku satu-satunya pekerja yang berpendidikan paling tinggi, SMP. Rupanya tingkat pendidikan tidak begitu berarti untuk bisa bekerja di sana. Bahkan mas Ana, yang juga hanya lulusan SD sudah menjadi orang kepercayaan pemilik usaha tersebut.

Kami semua bekerja, makan, dan tinggal di gedung itu. Setiap hari kami bangun sangat pagi untuk bersiap-siap dan mulai aktivitas kerja jam 07.00 pagi. Jam kerja kami cukup panjang. Dari jam 07.00 kemudian berhenti istirahat jam 12.00. Jam 13.00 kami sudah harus berada di tempat kerja lagi hingga jam 17.00. Habis magrib jam 19.00 kami harus sudah siap di tempat kerja lagi hingga jam 21.00. Setelah itu kami baru bisa merasakan yang namaya istirahat. Melelahkan memang. Sebelas jam setiap hari aku bekerja dengan gaji Rp. 30.000 per bulan waktu itu.

Hari Minggu merupakan hari yang dinanti-nanti. Karena satu-satunya hari libur yang kami miliki. Namun di hari minggu ini kami tidak bisa melakukan aktivitas liburan menikmati jalan-jalan kota Jakarta. Kami harus tetap berada di dalam gedung. Kami seperti ikan-ikan yang berada di aquarium atau burung piaraan yang tetap di dalam sangkar. Hanya ada satu cara untuk bisa keluar menghirup udara Jakarta. Kami harus bergiliran keluar gedung maksimal dua orang setiap kali keluar. Hal ini cukup membuat aku penasaran. Setelah aku tahu ternyata pabrik di mana aku bekerja masih berstatus ilegal atau belum berijin usaha. Gila memang! Orang begitu mudahnya memiliki usaha yang produknya sudah diekspor ke luar negeri tetapi ijin usahanya belum ada. Tetapi apalah dayaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain harus bekerja dan bekerja. Aku tidak mau gagal yang kedua kalinya. Aku tidak boleh cengeng lagi seperti dulu. Aku harus bisa menunjukan bahwa aku bisa berhasil di Jakarta. Aku tetap bertahan.

Seperti hari-hari biasanya, jam tujuh tepat kami sudah berada di ruang kerja. Ruang kerja kami berada di lantai tiga. Dimana di situ ada beberapa meja panjang dan kursi –kursi tempat duduk kami untuk beraktifitas layaknya sebuah tempat makan perasmanan di bedeng tentara yang sedang latihan perang. Di depan tempat duduk kami sudah tersedia tumpukan kertas label shampoo dan botol kertas yang dilapisi aluminium voil yang siap di temple dengan label kertas secara manual. Tugasku adalah menempel label-label tadi di botol berbentuk tabung lurus yang masih polos dan sudah berisi shampoo. Aku harus mengerjakan dengan sangat hati-hati karena kalau menceng sedikit artinya kerjaku akan dinilai kurang teliti. Kerja kami tidak luput daripengawasan Koh Achin yang berwajah garang dan pelit senyum. Walaupun tidak memakai kekerasan fisik kadang kata-katanya sering membuat kami sakit hati dan mengumpat di waktu istirahat.

Kerja kami dibagi menjadi dua bagian. Di bagian lain di lantai dua, beberapa temanku ada yang siap membungkus sabun-sabun dengan kertas label sabun yang tersedia. Sabun yang kami kemas dengan label itu bentuknya bulat pipih seperti gula merah dan katanya harganya sangat mahal. Kami juga tidak tahu di mana sabun-sabun itu diproduksi.

Saat yang paling melelahkan dan menyebalkan di mana kami harus membuat shampoo. Pekerjaan ini sering dilakukan di tengah malam hari di mana kami sedang mengantuk setelah lelah bekerja seharian hingga malam. Walaupun pekerjaan ini dikerjakan beberapa malam sekali tetapi ini sangat menyiksa. Kami harus bergelut dengan beberapa bahan shampaoo dan zat kimia yang harus diaduk menjadi satu di sebuah drum besar. Tugas kami adalah mengaduk dengan kayu besar hingga rata sesuai aturan yang tepat. Karena kelelahan di malam hari, pekerjaan mengelem dan menempel sering terjadi kesalahan Karen amata kami tidak bisa menahan kantuk. Disitulah kami menjadi bahan kemarahan KohAchin. Saat yang paling menyebalkan. Kalau saja waktu badanku cukup besar ingin rasanya kutonjok dia hingga terkapar.

Hingga pada suatu sore, saudara sepupuku yang baru pulang dari kampung membawakan sepucuk surat dari Bapak di desa. Aku segera membuka amplop karena rasa kangen yang sudah tak tertahankan. Aku pun senyum-senyum sendiri membaca surat itu. Namun ada sebuah kalimat yang cukup membuatku merinding. ‘Suryo, kamu harus segera pulang, Bapak sudah daftarkan kamu di SMA, kamu harus sekolah lagi, Suryo.” Aku melanjutkan kata-kata bapak yang sangat membuatku tak percaya dan tak sadar menitikkan air mata. Belakangan aku tahu bapakku telah di semprot habis-habisan oleh salah seorang saudara di desa karena telah membiarkan anak laki-laki satu-satunya bekerja di Jakarta hanya menjadi buruh pabrik.

“Anakmu itu anak pinter, Mar. Kamu kok tega membiarkan anak laki-lakimu kerja di pabrik. Anakmu harus sekolah. Mau jadi apa kalau cuma kerja di pabrik seperti itu. Sekolah dulu baru nanti bisa bersaing di dunia kerja yang lebih baik. Kamu harus mewarisi anakmu pendidikan yang baik. Lihat saja anak-anak desa sini yang lain kan pada ga sekolah ya pekerjaan mereka itu-itu saja. Mestinya kamu berfikir beda, Mar. Suryo itu beda dengan anak desa yang lain. Dia itu tak cocok bekerja pakai otot. Dia itu pemikir. Dia itu suka belajar. Masa Bapaknya nggak bisa mengerti anaknya sendiri.” Begitulah kata-kata saudara bapak yang lebih tua menasehati bapakku. Bapakku tertunduk dan berfikir. Segera setelah itu bapak pun menuliskan surat sakti yang sedang aku baca saat ini.

“Udahlah Sur, pulanglah, memang tempat kamu bukan di sini. Kamu harus sekolah lagi. Raihlah mimpimu. Cepatlah kamu kemas pakaianmu dan segera pamitan bos. Aku yakin bos akan maklum karena kamu akan lanjut sekolah,” kata Atmo teman terbaikku. Dia begitu senang dan terharu ketika aku memberikan surat bapak kepadanya. Dia pun membaca suratnya dan mengerti.

“Kamu beruntung, Sur, bisa sekolah tinggi. Kamu pasti akan jadi orang sukses. Cukup kita saja yang seperti ini.” Mas Ana menambahkan doa terbaiknya. Membuat air mataku kian jatuh tak tertahan kan. Mereka memang teman-teman seperjuanganku yang sangat baik. Aku hanya berfikir semoga mereka mendapatkan kesuksesan walaupun tanpa harus bersekolah tinggi. Mereka orang-orang rajin yang akan mendapatkan balasan dari keuletannya bekerja. Aku pun pulang dan melanjutkan sekolah. Sekolah SMA. Putih abu-abu akhirnya bisa kupakai juga. Danu, apakah kau di sana juga sekolah SMA?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah akhirnya Suryo sekolah lagi...lanjuut

15 Sep
Balas

Iya Bu. Untuk mncapai SMA ternyata tidak

15 Sep
Balas

Tidak semulus yang kita pikirkan.

15 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali